Upacara Adat Jawa Yang Sudah Menjadi Tradisi Sampai Sekarang

Yuk cari tahu lebih jauh tentang tradisi penduduk Jawa Tengah! Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisinya masing-masing, tak terkecuali Jawa Tengah. Jawa Tengah memiliki banyak tradisi dan dikenal dilestarikan oleh masyarakat.

Tradisi adalah budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Budaya ini bisa bermacam-macam mulai dari adat istiadat, adat istiadat yang berhubungan dengan agama.

Tradisi berlanjut, melanjutkannya jika terus berlanjut. Namun jika hal ini tidak dilakukan lagi, maka tradisi tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Budaya Dan Tradisi Jawa Tengah

Di wilayah Jawa Tengah, tradisi Jawa Tengah masih dilestarikan dan dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari di kota Jawa Tengah. Di bawah ini adalah tradisi Jawa Tengah yang masih dipraktikkan hingga saat ini. Dan akan diwariskan ke anak cucu nanti alias generasi penerus.

Tradisi Wetonan

Tradisi Jawa Tengah yang pertama adalah tradisi Wetnan. Kata Vetonan dalam bahasa Jawa berarti. Namun, Vetnan di sini dikaitkan dengan kelahiran manusia.

Tradisi Wetnan adalah ritual menyambut bayi yang baru lahir. Nantinya, tradisi Wetnan ini dilakukan agar sang anak dapat terlindung dari bahaya dan mendapat lebih banyak nutrisi dan keberuntungan.

Upacara Ruwatan

Ritual Ruvatan masih dilestarikan sebagai tradisi di Jawa Tengah. Misalnya, di daerah Dien Wonosovo untuk anak-anak berambut gimbal, umumnya diyakini ikalnya menyerupai Muto Ijo, sehingga gaya Luwatan harus diikuti. Ini untuk menangkal kejahatan dan kejahatan yang dibawa Ijo Muto.

Upacara Larung Saji

Tradisi Jawa Tengah ini mudah ditemukan di daerah pesisir, terutama di pesisir utara dan selatan. Ritual Larung Saji melibatkan ekspor produk makanan ke laut dalam bentuk tanaman dan hewan yang disembelih.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil laut yang disajikan kepada para nelayan. Upacara ini juga diadakan untuk mendoakan keselamatan para nelayan agar bisa melaut dengan selamat tanpa adanya bencana ataupun diberikan hasil laut yang terbaik.

Tradisi Popokan

Tradisi Jawa Tengah ini masih dipraktekkan. Tradisi lampin merupakan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Semarang.

Tradisi ini diadakan pada hari Jumat Kurivon pada bulan Agustus. Tradisi menggunakan popok mulai dipraktikkan oleh masyarakat dari daerah Beringin, namun kini banyak dipraktekkan di wilayah Semarang.

Penduduk setempat mengikuti tradisi ini untuk menghancurkan kejahatan di daerah tempat mereka tinggal dan untuk mengusir bala bantuan.

Tradisi Swalayan

Tradisi Shavaran adalah salah satu dari tujuh hari setelah perayaan Idul Fitri. Berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang menawarkan Ketupat pada Idul Adha, penduduk setempat menyebut tradisi Shavaran sebagai tradisi Ketupatrebaran karena masyarakat Jawa Tengah justru menyajikan nasi kuning pada Idul Adha. Hidangan ketupat baru disajikan dalam tradisi shavaran.

Upacara Tingkeban

Tradisi selanjutnya di Jawa Tengah adalah gaya Tinkeban. Ritual ini disebut juga dengan ritual mitoni. Upacara Tinkeban adalah upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 kehamilan seorang perempuan setelah menjalankan pernikahan.

Mungkin ibu-ibu lebih familiar dengan tradisi yang disebut tradisi “7 bulan”. Tradisi Jawa Tengah ini dilakukan dengan memandikan ibu dan kemudian membacakan doa yang dapat memberkati kelahiran seorang anak.

Ada pancuran air garam saat mandi, yang harus dilakukan oleh 7 sesepuh atau sesepuh.

Itulah beberapa tradisi Jawa Tengah yang masih ada dan terus bertahan. Apakah Anda ingin tetap berpegang pada salah satu tradisi di atas?

Spread the love